Pernahkah
Anda membayangkan mendengar sebuah bisikan lirih yang keluar dari mulut seorang
Rumi:
Wahai cinta, cinta teramat suci, kemarilah,
sekarang juga.
Jadilah segala-gala dunia melebur ke dalam
cahaya tanpa nodamu.
Daun-daun mungil yang terbakar bersamamu
lebih terang dari pada bintang beku. Oh…jadikan aku hamba sahayamu, nafasmu,
inti sarimu.
Bukan
main! Jalaludin Rumi telah membuktikan dirinya sebagai seorang pencinta sejati.
Karena seorang pencinta selalu dan selalu berpuisi sebagai ekspresi
kecintaannya. Tak percaya? Ingatlah ketika Anda jatuh cinta, berapa banyak
puisi yang telah Anda hasilkan. Kalau tak pernah berarti hati Anda belum
tertaut kepada cinta, cinta Anda masih terbatas pada kata-kata dan belum lahir
dari hati. Belum tertaut pada lembutnya cinta. Mengapa? Karena cinta,
sejatinya, berkaitan dengan hati atau perasaan, yang mengalir keluar melalui
lisan dan perilaku yang lembut.
Imam
Ibnu Qoyyim berkata, “cinta itu laksana pohon di dalam hati yang akarnya adalah
ketundaukan kepada kekasih yang dicintai, dahannya adalah mengetahuinya,
rantingnya adalah ketakutan kepadanya, daun-daunnya adalah malu kepadanya,
buahnya adalah ketaatan kepadanya dan air yang menghidupinya adalah menyebut
namanya. Jika di dalam cinta ada satu bagian yang lowong, bererti cinta itu
berkurang,”
satu kata yang dignakan oleh Imam Ibnu Qoyyim
untuk istilah cinta adalah kata ‘al-mahabbah’ (kasih saying). Makna mahabbah
itu sendiri dalam kosa kata bahasa arab mempunyai banyak penafsiran. Ada yang
berpendapat bahwa kata al-mahabbah berasal dari kata al-habbu, yang artinya
inti sesuatu, biji tanaman atau pepohonan dan asal muasalnya. Tapi ada yang
mengartikannya sebagai gelas besar untuk mencampur sesuatu agar muat banyak. Hati
orang yang mencintai tidak mempunyai tempat , kecuali bagi orang yang
dicintainya. Ada yang berpendapat kata ini berasal dari buah hati. Cinta
dinamakan seperti ini karena cinta itu bisa sampai ke buah hatinya.
Ada
yang berpendapat kata al-mahabbah adalah kecenderungan secara terus-menerus,
dengan disertai hati yang meluap-luap. Ada pula yang mengatakan, artinya
mendahulukan kepentingan orang yang dicintai ketimbang hal-hal lain
disekitarnya. Ada pula yang berpendapat artinya menuruti keinginan orang yang
dicintai, baik tatkala sang kekasih ada di sampingnya atu tidak di sampingnya.
Ada yang berpendapat, artinya menyatukan keinginan orang yang mencintai dan
dicintai.
Masalahnya
sekarang apa yang dimaksud dengan cinta sejati? Apakah kisah cinta romeo and
Juliet dapat mewakili kisah cinta anak-anak SMU? Mengapa makna cinta saat ini
telah lunturkarena sebagian dijual murah oleh anak-anak muda kita
agarmendapatka kepuasan materi? Mengapa kita telah menghilangkan makna cinta
sejati dengan syair-syair maurahan yang dikemas dalam sebuah lagu yang konon
penualannya laku keras? Jadi apa sesungguhnya makna cinta sejati?
Barang
kali Abu Bakar al-kattany dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Beliau
berkata, “suatu kali tatkala musim haji pernah diselenggarakan dialog yang mengupas
masalah cinta di Mekah. Banyak orang tua yang angkat bicara dalam forum itu.
Sementara al-Junaid adalah orang yang
paling muda diantara mereka. Mereka berkata kepadanya, “sampaikan pendapatmu
wahai penduduk irak!”
Maka
Junaidal-Baghdadi, anak muda itu menundukan kepala dan air mata menetes dari kedua matanya seraya
berkata, “orang yang jatuh cinta adalah hamba yang mengabaikan dirinya, selalu
menyebut Rabb-nya, melaksanakan hak-hak-Nya, memandang-Nya dengan hati,
membakar hati dengan cahaya kehendak-Nya, minumannya berasal dari bejana
cinta-Nya, jika bicara dengan menyatakan Allah, jika bergerak dengan menurut
perinth Allah, jika diam bersama Allah, dia dengan Allah,milik Allah dan
bersama Allah.”
Setelah
mendengar itu, orang-orang tua pun menangis. Mereka pun berkata, “ini
keterangan yang tidak membutuhkan tambahan lagi. Semoga Allah memberika
keperkasaan kepadamu wahai pemimpin orang-orang yang berilmu.
Wahai
saudaraku, inilah cinta sejati yang sajatinya mesti dimiliki dan ditumbuh
kembangkan di dalam kalbu setiap Muslim. Cinta kepada Allah menurut kaum sufi,
akan mengantarkan ruh pada kasih saying, ridha, dan ketentraman. Ammar bin
yasir berkata, “Ya Allah! Andaikan aku tahu Engkau lebih meridhai diriku terjun
dari ketinggian gunung ini, niscaya aku melakukannya. Andai pula aku tahu
Engkau lebih meridhai aku menenggelamkan diri ke dalam air. Tentu akan aku
lakukan juga. Tiada kukatakan ini, kecuali betapa kuarnya cintaku kepada zat-Mu
yang mulia dan indah.
Mencintai
Allah merupakan kesempurnaan cinta dan merupakan tuntutan cinta. Allah
mempunyai hak untuk dicintai, yang tidak boleh ada sekutu selainnya dalam cinta
itu. Kezaliman yang paling zalim adalah meletakkan cinta itu bukan pada
tempatnya dan ada persekutuan antara Allah dengan selain Allah di dalamnya. Ada
sebuah kisah menarik yang menceritakan hikmah sebuah cinta.
Dikisahkan
bahwa suatu hari al-Fudhail menemui putrinya yang sedang sakit. Putrinya
berkata, “wahai bapak! Apakah engkau mencintaiku?” Al-fudhail lantas menjawab
“ya”. Si anak lantas menjawab, “tiada tuhan selain Allah. Demi Allah aku tidak
menyangka engkau seprti itu wahai bapakku, dan aku juga tidak menyangka engkau
bisa mencinltai seseorang di samping Allah. Tunggalkanlah Allah di dalam cinta
dan berikan kasih saying atau cintamu kepadaku sebagai cinta karena kasih
saying, yang telah dimasukkan Allah ke dalam hati orang tua kepada anaknya,
bukan cinta di samping cinta kepada Allah.
Menurut
imam Ibnu Qoyyim al-Jauziah dalam bukunya, siraman ruhani bagi yang mendapatkan
ketenangan hati (al-Jawab al-Kafi liman sa’ala ’an ad-Dawa’ as-Syafi: au
ad-Da’wa ad-Da’wa), “Orang yang mencintai itu akan terus memperbanyak amalan
sunnah, sampai ia menjadi orang yang dicintai Allah. Oleh karena itu
kecintaannya kepada Allah mengharuskan dirinya untuk mencintai yang lain, juga
karena Allah. Kecintaan ini selalu menyibukkan hatinya untuk salalu berfikir
dan berzikir kepada Allah serta melupkan segala kepentingan selain kepada yang
ia cintai. Dan ia akan serahkan segenap jiwanya kepada Allah, tidak
meninggalkan sedikitpun dalam hatinya untuk mencintai selain Allah SWt. Dan ia
telah memiliki seluruh hatiya, yang pada akhirnya, akanmenguasai jiwa dan
ruhnya untuk sepenuhnya mencitai Allah.”
Di
kala Rasullah SAW berbisik kepada Allah, beliau memohon cinta. Memohon agar
menjadi kesayanganNya di dalam mengerjakan amal shaleh. Beliau berdoa, “Wahai
tuhan kami, jadikanlah cintaku kepadamu sebagai sesuatu yang aku suka, dan
takutku kepada-Mu sebagai rasa yang paling dalam. Putuskanlah segala
ketergantungan dunia dariku, menggantinya dengan perasaan rindu berjumpa
dengan-Mu. Jika engkau berikan kepada ahli dunia kesejukan harta mereka, maka
jadikanlah kesejukan bagiku di dalam ibadahku.”
Bahkan
Rasulullah SAW pernah mendeskripsikan bahwa manusia tidak akan measakan
manisnya iman dan lezatnya keyakinan, apabila tidak bisa merasakan hangatnya
cinta dan cahaya-Nya. Maka nabi saw pun bersabda, “ada tiga perkara apabila di
dalam dirinya terdapat ketiga perkara itu, berarti ia telah merasakan
nanisnya iman, yaitu: hendaknya Allah
dan Rasulnya lebih dicintai olehnya dari pada yang lainnya, hendaknya ia hanya
mencintai seseorang hanya karena Allah, dan hendaknya ia benci kembali kepada
kekafiran seperti ia benci dilemparkan kedala api neraka,” (H.R.Bukhori).
Dalam
kitabnya yang berjudul al-Mahabbah, Imam al-Ghozali menulis, “Sesungguhnya
kecintaan kepada Allah azza wa jalla adalah tujuan puncak dari seluruh maqam
dan kedudukan yang paling tinggi. Karene setelah diraihnya mahabbah tidak ada
maqam yang lain kecuali buah dari mhabbah itu, seperti maqam syauq (kerinduan),
uns (kemesraan), ridha dan lain-lain. Dan tidak ada maqam sebelum mahabbah
kecuali pengantar-pengantar kepada mahabbah itu, seperti taubat, sabar, zuhud,
dan maqam-maqam yang lain.”
Puncak
perjalanan keberagamaan kita menurut Imam al-Ghazali, adalah mahabbah (cinta).
Dan beliau berpendapat bahwa yang berhak untuk menerima cinta kita sebetulnya
hanyalah Allah swt. Dialah tuhan satu-satunya mustahiq cinta kita. Tuhan hanya
berlaku diskriminatif dalam urusan agama dan cinta saja. Dia hanya mencintai
orang yang mencintai-Nya. Allah memberikan kepada siapa saja kasih sayanNya,
tetapi tidak cinta (hub)-Nya
Kaum
sufi menegakkan cahaya cinta berdasarkan al-Qur’an dan ilmu kenabian. Bagi
mereka yang mau mendalami, al-Qur’an adalah bisikan cinta yang hangat. Ajakan
nyata untuk mencurahkan kelezatan hidup pada jalan kebahagiaan, memperoleh
ridha Allah dan cinta kepada-Nya. Karenanya tak heran jika cinta mereka
terhadap Allah dan Rasulullah saw begitu mendalam karena begitulah printah yang
tertuang dalam firman-Nya, “katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu,
saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu,harta kekayaan yang kamu
peroleh, perniagaan yang kamu takut merugi dan rumah-rumah temat tinggal yang
kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di
jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah
tidak menunjukkan kaum yang fasik.” (QS. at-Taubah:24)
Ayat
di atas menjadi sandaran kaum sufi untuk menempatkan maqam cinta kepada Allah
sebagai maqam tertinggi dalam perjalanan menuju Allah swt karena di dalam cinta
kepada Allah, terbungkus cinta kepada Rasul-Nya dan jihad di jalannya, yang
pada gilirannya akan melumpuhka cinta duniawi yang paling kokoh sekalipun,
seperti cinta kepada ayah,ibu, suami, istri, anak, keluarga, harta dan tempat
tinggal. Ayat tersebut juga telah memberikan ancaman kepada manusia apabila
manusia menempatka cinta kepada Allah lebih rendah dari cinta kepada selain
Allah.
Bahkan
para wali Allah dan para sufi memandang puncak kecintaan sejati kepada Allah
swt adalah dengan mencintai kematian. Menurut mereka kalau seseorang sudah
mencintai kematian, berarti ia telah memiliki cinta yang sejati kepada Allah
swt
Mari
kita tutup bahasan kali ini dengan memenjatkan doa cintanya Nabi Dawud a.s:
“Ya
Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu akan cinta-Mu dan cinta orang-orang
yang mencintai-Mu serta cinta yang dapat mendekatkan aku kepada cinta-Mu. Ya
Allah, apa yang engkau anugerahkan kepadaku dari apa-apa yang aku cintai, maka
jadikanlah ia sebagai kekuatan bagiku tentang apa yang Engkau cintai. Ya Allah
jadikanlah aku mencinai-Mu dengan segenap hatiku dan ridha kepada-Mu dengan
segala usahaku.

