Suatu malam aku bermunajat dengan segala keluh kesah dan harapan yang seakan menjadi sirna, lalu Dzat yang maha Pencemburu itu menjawab munajatku dengan pertanyaan halus “Sekarang sudah tahu kan apa kesalahanmu?”
Hati menjadi
gemetar saat itu, tulang belulang menjad lebur. Pertanyaan itu menghancurkan
semua keadaan, adakah yang bisa menjawab pertanyaan itu selain fana dalam
keridhoan?
yang diharap
dalam munajat itu dia akan menjawab “dia tidak baik untukmu” atau “aku akan
dekatkan lagi dia kepadamu” atau jawaban lain yang mewakili harapan-harapaan
saat itu. Wa lakinnaAllaha yatajalla
binafsihi Dia berhak dengan jawabanNya sendiri.
Dari pertanyaan
semacam itu Allah tidak hendak menyuruh kita untuk mengumpulkan jawaban-jawaban
melainkan agar kita mengembalikan segala permasalahan hidup ke dalam hati kita.
Sebab hati adalah sumbernya segala penyakit, masalah dan marabahaya. Yang dimau
dari pertanyaan itu agar kita kembali membaca diri kita sebab bila dalam
keadaan seperti itu kita justru membaca orang lain maka akan timbul
masalah-masalah dan kegalauan lain yang akan terus menerus menyakiti hati tanpa
ujung. Maka dengan pertanyaan itu Allah hendak memutus mata rantai kegalauan
dan kegundahan dalam hati dan menjadikan kita orang yang pandai membaca diri.
Pertanyaan itu
sejalan dengan firmannya surah Al-isra’ ayat 14:
اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ
حَسِيبًا
“Bacalah kitabmu
sendiri, cukupkanlah hari ini engkau menjadi penghisab atas dirimu sendiri”
Bagaimana tidak
indah hidup seorang yang ridho, setiap permasalahannya dikembalikan kepada
dirinya sendiri. Sehingga masalah yang besar menjadi fana dan lenyap dalam
keridhoan dan tidak menjadi fitnah yang lebih luas bagi orang-orang
disekitarnya.
Inilah salah
satu obat, yang Allah suapkan dihati orang-orang yang menempuh perjalanan jauh
menuju ke HadiratNya. Setiap masalah adalah hikmah dan setiap hikmah adalah
racikan baru untuk obat-obat bagi penyakit yang semakin sulit disembuhkan
seiring dengan semakin jauhnya perjalanan.
الهى ان تجعل كل حالنا راضية مرضية
“ ya Ilahi jadikanlah kami
senantiasa dalam keadaan ridho dan diridhoi”
Bekasi, 25 rabi’utssani 1437 H

Tidak ada komentar:
Posting Komentar