Jumat, 05 Februari 2016

CARA ALLAH MENANAMKAN SIFAT RIDHO

Suatu malam aku bermunajat dengan segala keluh kesah dan harapan yang seakan menjadi sirna, lalu Dzat yang maha Pencemburu itu menjawab munajatku dengan pertanyaan halus “Sekarang sudah tahu kan apa kesalahanmu?”



Hati menjadi gemetar saat itu, tulang belulang menjad lebur. Pertanyaan itu menghancurkan semua keadaan, adakah yang bisa menjawab pertanyaan itu selain fana dalam keridhoan?
yang diharap dalam munajat itu dia akan menjawab “dia tidak baik untukmu” atau “aku akan dekatkan lagi dia kepadamu” atau jawaban lain yang mewakili harapan-harapaan saat itu. Wa lakinnaAllaha yatajalla binafsihi Dia berhak dengan jawabanNya sendiri.
Dari pertanyaan semacam itu Allah tidak hendak menyuruh kita untuk mengumpulkan jawaban-jawaban melainkan agar kita mengembalikan segala permasalahan hidup ke dalam hati kita. Sebab hati adalah sumbernya segala penyakit, masalah dan marabahaya. Yang dimau dari pertanyaan itu agar kita kembali membaca diri kita sebab bila dalam keadaan seperti itu kita justru membaca orang lain maka akan timbul masalah-masalah dan kegalauan lain yang akan terus menerus menyakiti hati tanpa ujung. Maka dengan pertanyaan itu Allah hendak memutus mata rantai kegalauan dan kegundahan dalam hati dan menjadikan kita orang yang pandai membaca diri.
Pertanyaan itu sejalan dengan firmannya surah Al-isra’ ayat 14:

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا
“Bacalah kitabmu sendiri, cukupkanlah hari ini engkau menjadi penghisab atas dirimu sendiri”

Bagaimana tidak indah hidup seorang yang ridho, setiap permasalahannya dikembalikan kepada dirinya sendiri. Sehingga masalah yang besar menjadi fana dan lenyap dalam keridhoan dan tidak menjadi fitnah yang lebih luas bagi orang-orang disekitarnya.
Inilah salah satu obat, yang Allah suapkan dihati orang-orang yang menempuh perjalanan jauh menuju ke HadiratNya. Setiap masalah adalah hikmah dan setiap hikmah adalah racikan baru untuk obat-obat bagi penyakit yang semakin sulit disembuhkan seiring dengan semakin jauhnya perjalanan.
الهى ان تجعل كل حالنا راضية مرضية
“ ya Ilahi jadikanlah kami senantiasa dalam keadaan ridho dan diridhoi”
Bekasi, 25 rabi’utssani 1437 H

Tidak ada komentar: